Pengikut

Kamis, 27 Desember 2012

Situs Pamokshan Gajah Mada /Eyang Sabda Palon dan Pertabatan Raja – Raja Jawa Di Panjer Kebumen


Pamokshan Gajah Mada, di komplek pabrik Mexolie /Sarinabati Panjer - Kebumen
Pamokshan Gajah Mada, di komplek pabrik Mexolie /Sarinabati Panjer – Kebumen

Situs Pamokshan Gajah Mada /Eyang Sabda Palon dan Pertabatan Raja - Raja Jawa Di Kompleks Mexolie /Sarinabati Panjer Kebumen Jawa Tengah

Situs Pamokshan Gajah Mada/Eyang Sabda Palon adalah situs tempat bertapabratanya Gajah Mada/Eyang Sabda Palon hingga mencapai tingkat Hambadan Cahya (berbadan Cahaya)/Rijallulghaib/Moksa (Murca)/Hanyiluman. Sedangkan situs Pertabatan adalah tempat bertapabratanya para Raja Jawa. Dua situs ini letaknya berdekatan di dalam kompleks eks Pabrik Mexolie/Sarinabati Panjer – Kebumen – Jawa Tengah. Selain dua situs berharga tersebut, di kompleks Mexolie juga terdapat situs Sendang Kalasan yang dikenal sejak jaman kerajaan Kediri sebagai sendang yang digunakan untuk ritual pemandian/pembersihan diri para Raja Jawa. Sendang ini diubah menjadi sumur oleh Belanda, setelah dikuasai dan dibumihanguskannya Pendopo Agung Panjer pada tahun 1831 (baca artikel “Gelora Pertempuran Dipanegara” dan “Pertempuran Karangsambung”). Pengubahan Sendang Kalasan menjadi sumur bersamaan dengan pengubahan wilayah Pendopo Agung Kadipaten Panjer menjadi Pabrik Mexolie.
Dikisahkan dalam beberapa riwayat babad, bahwa setelah terjadinya peristiwa Bubat, Gajah Mada diberhentikan dari jabatannya dan kemudian melakukan perjalanan ke barat hingga murca/mokshanya.  Dari berbagai literatur, riwayat Gajah Mada hingga kini masih menjadi rahasia, termasuk tempat pamokshan Beliau. Di kompleks eks Mexolie/Sarinabati inilah Pamokshan Gajahmada yang dikuatkan dengan adanya situs Punden Majapahit (tempat dimurcakannya pusaka – pusaka penting Majapahit) di dusun Loning, Desa Sadang Wetan, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen berada.

Nama daerah Sadang/Sadeng tersebut dalam kitab Nagarakertagama dan Pararaton. Di dalam Nagarakertagama disebutkan bahwa Raja Tribuwana memerintah, didampingi suaminya Kertawardana menumpas pemberontakan di daerah Sadeng dan Keta. Sedangkan dalam Pararaton disebutkan bahwa terjadi pesaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Tribuwana akhirnya berangkat sendiri menyerang Sadeng. Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa setelah Gajah Mada berhasil meredakan pemberontakan Sadeng, dia kemudian dilantik menjadi Patih Amangkubumi. Dia juga mengucapkan Sumpah Palapa pada pelantikannya itu.

Beberapa Nama Sadeng
Nama Sadeng terdapat di beberapa daerah antara lain:
  1. Sadeng di wilayah Bogor Jawa Barat
  2. Sadeng di wilayah Gunung Pati di Semarang
  3. Sadengrejo di daerah Pasuruan
  4. Sadang di daerah Kebumen

Analisis kelayakan
  1. Sadeng di wilayah Bogor; menurut penulis, daerah ini sangat tidak sesuai dengan Sadeng yang dimaksud dalam riwayat Gajah Mada. Hal ini didasarkan pada logika bahwa hingga masa terakhir Gajah Mada menjabat sebagai Maha Patih, daerah Jawa Barat belum sempat ditaklukan Majapahit. Hal ini disebabkan karena diberhentikan dengan segeranya Gajah Mada sebagai Maha Patih akibat peristiwa perang Bubat. Sadeng Bogor kemungkinan merupakan wilayah dari kerajaan Sunda Pajajaran dengan rajanya Linggabuwana pada saat itu.
  2.  Sadeng di wilayah Gunung Pati Semarang; daerah ini juga bukan daerah yang dimaksud dalam riwayat, sebab hingga kini belum ada riwayat penemuan bekas bekas kejayaan pemerintahan kerajaan di daerah tersebut.
  3.  Sadengrejo di wilayah Pasuruan; daerah ini juga sangat kecil kemungkinannya sebagai daerah yang dimaksudkan dalam riwayat Gajah Mada. Jika di wilayah tersebut merupakan tempat terjadinya pemberontakan, tentunya sudah sejak dahulu diteliti oleh para pakar sejarah. Apalagi daerah tersebut sangat dekat dengan pusat pemerintahan Majapahit.
  4.  Sadang di wilayah Kebumen; Sadang di daerah ini lebih yang mempunyai kelayakan sebagai tempat yang dimaksud dalam riwayat Gajah Mada itu. Analisis objektif didasarkan pada:
  • Kata Sadeng berubah menjadi Sadang sebagai akibat proses kebahasaan, seperti juga yang terjadi pada kata Bra Wijaya yang berubah menjadi Bra Wijaya, Mataram menjadi Metaram, Dhi Hyang menjadi Di Hyeng/Dieng, dan lain – lain.
  • Adanya situs Punden Majapahit yang lokasinya berada di tengah sawah Majapahit.
  • Banyaknya tokoh – tokoh Majapahit yang menghabiskan waktu hidupnya di daerah Kebumen, bahkan berlanjut hingga masa kerajaan Mataram. Beberapa tokoh tersebut antara lain; Senopati Majapahit Gajah Oling (makam di Gombong), Syekh Baribin/Panembahan Grenggeng (salah satu putra dari Brawijaya terakhir, makam di Grenggeng). Gajah Mada (Moksha di Panjer, kini berada dalam kompleks eks pabrik Mexolie/ Sarinabati Panjer Kebumen), Petilasan Danang Sutawijaya/Panembahan Senopati (di Kaligending), Lumbung padi terbesar dan pertahanan militer Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma (di Panjer), Pertahanan terkuat Dipanegara di Panjer, Pertabatan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sultan Amangkurat I dan Dipanegara (di Panjer), Pamokshan Singapatra di Kebumen, Petilasan Untung Surapati (di Karanggayam), Makam Pangeran Bumidirjo (di Kutowinangun), dan masih banyak lagi lainnya.
  • Peristiwa perjalanan ke barat dalam rangka pelamaran putri Raja Pajajaran oleh Kerajaan Majapahit tentunya melalui jalur Urut Sewu Kebumen yang sejak dahulu kala telah dikenal sebagai jalur utama penghubung berbagai daerah di pulau Jawa khususnya di wilayah selatan. Artinya wilayah Kebumen yang pada waktu itu kemungkinan memiliki nama lain seperti misal Panjer, Sadeng, Galuh/Sigaluh dan lain – lain telah dikenal oleh Majapahit.
  • Adanya bekas Asistenan jaman Belanda di wilayah Sadang Wetan yang membuktikan bahwa di daerah tersebut pasti memiliki keistimewaan tersendiri, sebab telah menjadi pola dari Belanda dalam tiap mendirikan tempat pemerintahan dan tempat – tempat pentingnya pasti selalu menempati wilayah yang merupakan bekas kejayaan masa lalu nusantara.
  • Kata Pemberontakan dalam konteks Pemberontakan Sadeng, bisa diartikan sebagai subjektifitas kedaerahan mengingat kitab tersebut adalah kitab yang ditulis oleh wangsa atau penguasa yang dominan pada waktu itu. Artinya ada kemungkinan juga bahwa Sadeng sebetulnya merupakan wilayah mancanegara dari Majapahit atau kerajaan tersendiri yang berusaha ditaklukan oleh Majapahit. Karena melakukan penolakan atau perlawanan, maka Sadeng kemudian dianggap sebagai pemberontak. Sebuah wilayah atau pemerintahan berani melakukan pemberontakan pastinya telah memperhitungkan kekuatan pihak yang akan diberontak, artinya Sadeng telah memperhitungkan kekuatan Majapahit yang saat itu telah menjadi kerajaan yang besar, dapat diartikan juga bahwa Sadeng bukanlah wilayah dengan kekuatan yang kecil.
Setelah beberapa waktu berada di tempat ini (Sadang), Gajah Mada kemudian melanjutkan perjalanannya ke selatan menyusuri sungai Luk Ula dan berhenti di daerah Panjer Kuno yang dahulunya masih berupa hutan kelapa di tepian Kerajaan/Kadipaten Panjer (yang kemudian menjadi Mexolie/Sarinabati Panjer Kebumen). Di Panjer kuno inilah kemudian Gajah Mada Moksha/Murca.
Pamokshan Gajah Mada, Pertabatan para Raja Jawa dan beberapa situs lain di kompleks eks Mexolie Panjer ini kini terancam hilang, dikarenakan beberapa waktu ke depan lokasi eks Mexolie akan segera dibangun menjadi tempat wisata dan perhotelan. Kiranya perlu kearifan dan kebijakan pemikiran dari pihak pengembang dan investor demi kelestarian situs berharga milik bangsa ini. Semoga Tuhan melalui para leluhur dan mekanisme alam menyelamatkan situs Pamokshan Gajahmada, Pertabatan para Raja Jawa, Sendang Kalasan, dan beberapa situs lainnya yang berada di eks Mexolie/Sarinabati Panjer – Kebumen – Jawa Tengah.
Salam Pancasila!

Tidak ada komentar: